6 Kasus Pecah Kongsi Bisnis Terkenal: Nasib Mereknya?

“Pahami dampak hukum pecah kongsi bisnis terhadap kepemilikan merek. Simak 6 contoh kasusnya di Indonesia dan cara mencegah sengketa.”
Membangun bisnis bersama teman, pasangan, keluarga, atau rekan kerja memang dapat membuat modal dan tanggung jawab menjadi lebih ringan. Namun, hubungan bisnis tidak selalu berjalan sesuai rencana. Perbedaan visi, pembagian keuntungan, pengelolaan usaha, hingga kepemilikan aset dapat memicu keputusan untuk berpisah atau sering disebut dengan pecah kongsi.
Ketika bisnis sudah memiliki nama yang dikenal masyarakat, pecah kongsi tidak sesederhana “masing-masing jalan sendiri”. Pertanyaan yang kemudian muncul meliputi siapa yang berhak menggunakan nama bisnis? Bagaimana dengan mereknya? Siapa yang memiliki logo, resep, atau aset perusahaan?
Apa Itu Pecah Kongsi Bisnis?
Secara sederhana, pecah kongsi adalah kondisi ketika para pihak yang sebelumnya menjalankan bisnis bersama memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dan menjalankan usaha secara terpisah.
Pecah kongsi dapat menghasilkan beberapa kemungkinan. Ada pihak yang meneruskan bisnis lama, ada yang membuat merek baru, dan ada pula situasi ketika kedua pihak tetap menggunakan identitas yang memiliki kemiripan sehingga berpotensi menimbulkan persoalan hukum.
Karena itu, hal yang penting bukan hanya bagaimana bisnis tersebut dimulai tetapi bagaimana hubungan bisnis tersebut diatur apabila suatu saat berakhir.
6 Contoh Kasus Pecah Kongsi Bisnis di Indonesia
Ayam Goreng Suharti
Kisah Ayam Goreng Suharti menjadi salah satu contoh yang paling sering dibicarakan. Mantan suami tetap menggunakan identitas Ayam Goreng Ny. Suharti, sementara Suharti membangun kembalinya bisnisnya dengan nama Ayam Goreng Suharti dan menggunakan foto dirinya sebagai bagian dari logo.
Maicih
Setelah terjadi perbedaan visi dan misi, masing-masing pihak kemudian menjalankan bisnis secara terpisah. Satu pihak melanjutkan bisnis di bawah CV Maicih, sedangkan pihak lainnya menjalankan bisnis melalui PT Maicih.
Cap Kaki Tiga
Setelah hubungan kerja sama antara pemilik merek Wen Ken Drug berakhir dengan mitra produksinya di Indonesia, PT Sinde Budi Sentosa, perselisihan muncul mengenai penggunaan merek. Produk kemudian dipasarkan oleh pihak Sinde menggunakan identitas Cap Badak.
Tan Ek Tjoan
Saat ini terdapat pihak yang menjalankan usaha Tan Ek Tjoan dengan identitas visual yang berbeda. Salah satunya menggunakan identitas yang lebih tradisional, sementara pihak lainnnya menggunakan desain dan tampilan yang berbeda.
Holycow! Steakhouse
Setelah terjadi perbedaan antara para pendiri, bisnis berkembang menjadi dua jalur usaha. Salah satunya menggunakan nama Holycow! Steak, sementara pihak lainnnya menggunakan nama Steak Hotel by Holycow!.
Tempo Gelato
Salah satu persoalan penting yang muncul berkaitan dengan pendaftaran merek. Pihak Ema Susmiyarti disebut telah mendaftarkan merek Tempo Gelato pada 2015 dan putusan pengadilan memenangkan pihak tersebut dalam sengketa terkait merek.
Contoh-contoh di atas memiliki latar belakang dan struktur hubungan bisnis yang berbeda. Istilah “pecah kongsi” digunakan sebagai gambaran umum perpisahan hubungan bisnis dan tidak berarti seluruh kasus memiliki persoalan hukum yang identik.
Baca juga: Awas Pecah Kongsi! Pentingnya Founders Agreement Sebelum Bikin PT
Pecah Kongsi Bukan Alasan untuk Mengabaikan Legalitas
Dari berbagai contoh di atas, terdapat satu pelajaran penting yakni bisnis yang dibangun bersama tetap membutuhkan aturan tertulis, bahkan ketika hubungan antar pendirinya sangat dekat. Teman, pasangan, saudara, atau rekan bisnis dapat memiliki hubungan yang sangat baik ketika bisnis baru dimulai. Namun, kondisi dapat berubah ketika perusahaan mulai memiliki omzet yang besar, aset, cabang, karyawan, dan merek yang bernilai.
Karena itu, jangan hanya membuat perjanjian ketika sudah terjadi konflik. Atur kepemilikan, merek, aset, pembagian keuntungan, dan mekanisme keluar sejak bisnis pertama kali dibangun.
Baca juga: Jangan Tunda! Kapan Waktu yang Tepat Membuat Founders Agreement
Pecah kongsi bukan sekedar persoalan hubungan antar partner. Ketika bisnis sudah memiliki merek, aset, pelanggan, dan badan usaha, perpisahan dapat menimbulkan persoalan mengenai siapa yang berhak atas bisnis dan kekayaan intelektualnya.
Tim konsultan hukum Legalo siap membantu Anda membangun struktur hukum korporasi yang kebal sengketa. Kami melayani penyusunan Founders Agreement, pendirian badan usaha (PT/CV), hingga penelusuran dan pendaftaran eksklusif Hak Merek Anda di DJKI.
Lindungi Aset Bisnis dan Merek Anda Sebelum Terlambat! Konsultasikan Struktur Perusahaan Bersama Legalo Sekarang.
Author: Andrea Tiorein
